Pasrah

Ketika aku sedang berdiri, aku melihat orang-orang di sekitarku berjalan. Lama kelamaan mereka semakin menjauh. Ada yang masih berjalan dengan cepat, ada yang mulai berlari menjauhiku. Aku tetap berdiri dengan tegak, memandangi punggung-punggung mereka yang mulai menghilang…

Aku menjulurkan tanganku, meminta siapapun yang melihatnya untuk menarikku. Jangankan menggapai tanganku, melirikpun mereka enggan. Mungkin mereka menganggap diriku hanya akan membebani mereka yang terus bergerak.

Aku berusaha untuk teriak, mencoba untuk menarik perhatian mereka. Tetap saja tidak ada yang menggubris. Yang aku dapatkan hanyalah lirikan sinis dan merendahkan yang membuatku semakin tidak bisa bergerak.

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Kakiku bagaikan dipaku ke dalam tanah! Aku tidak bisa bergerak! Bergerakpun tidak akan ada gunanya! Aku tidak tahu mau bergerak ke mana!

Tak terasa air mataku berlinang. Tetes demi tetes mengalir, meninggalkan jejak dingin di pipiku. Mengusapnya pun aku terasa enggan. Mungkinkah akan ada yang memperhatikanku ketika aku mulai menangis? Atau butuh sebuah kejadian yang lebih besar daripada itu?

Sempat terlintas di benakku untuk menggigit lidahku sendiri. Dengan begitu darah akan bercucuran dari mulutku dan setidaknya ada satu orang yang akan menghampiriku. Satu saja! CUKUP SATU!

Tapi aku terlalu takut untuk melakukan itu. Aku hanyalah orang yang tenggelam dalam bayang-bayang orang di sekitarku. Tidak mampu berbuat apa-apa…

Sekali lagi aku menatap bayang-bayang dari orang-orang di sekitarku yang sekarang terlihat bagaikan titik kecil di kejauhan. Mereka terus bergerak dengan penuh semangat. Bayang-bayang mereka semakin lama semakin besar dan mulai menutupi diriku dengan sepenuhnya.

Pada akhirnya, aku hanya bisa berdiam diri. Menanti uluran tangan yang dengan lembut memaksaku untuk bergerak. Atau sebuah tepukan di punggung yang membuatku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Terjatuh menjadi pilihan yang cukup baik, itu bisa mendorongku untuk berdiri lagi.

Tapi untuk sementara waktu, karena masih belum ada yang menggubrisku, aku akan mencoba untuk menikmati dinginnya angin yang berhembus. Memandang apa yang masih bisa dilihat sambil terus berharap akan ada yang menghampiriku.

, , , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: