What a Wonderful World…

I hear babies cry,
I watch them grow.
They’ll learn much more,
than Ill never know.
And I think to myself,
what a wonderful world.

What a Wonderful World – Louis Armstrong

Lagu What a Wonderful World yang dikumandangkan oleh Louis Armstrong ini menyentuh bagian sentimentil dari diri gw yang lembek ini.

Beberapa saat yang lalu, gw bersama teman-teman gw menyanyikan lagu ini. Entah kenapa, pada bagian lirik tersebut, tanpa disadari mata gw dengan sendirinya membasah, berkaca-kaca dan hampir menangis. Padahal sebelum lagu itu dinyanyikan, gw sedang tertawa-tawa bersama mereka. Gw mencoba untuk mencari tahu kenapa lagu itu bisa menyebabkan gw jadi cengeng seketika.

Ternyata oh ternyata, setelah dipikir-pikir lagi, gw merasa bahwa bagian dari lagu ini seperti menggambarkan seseorang yang akan meninggal. Sebuah observasi terakhir akan dunia yang selama ini dilihatnya, mengingat dia akan segera menutup usianya, yang gw asumsikan sudah tua.

Kenapa gw asumsikan sudah tua? Karena dia sempat melihat ada seorang bayi yang menangis. Melihatnya tumbuh dan berkembang. Lalu berandai-andai bahwa anak tersebut akan belajar dan mendapatkan informasi lebih banyak dari yang sudah dia dapatkan seumur hidupnya.

Bagian tersebut juga bisa gw asumsikan sebagai sebuah harapan. Mungkin si orang itu merasa bahwa dia merasa selama hidupnya dia sudah berusaha untuk belajar sebaik-baiknya. Namun perkembangan jaman dengan perkembangan teknologi menambah informasi yang ada di dunia. Usianya sudah tidak memungkinkan untuk dia belajar lagi sehingga ia menaruh harapan kepada si anak kecil untuk maju dan terus belajar lebih banyak darinya.

Bicara tentang orang yang akan meninggal, mungkin juga bisa kita sangkut pautkan, secara semena-mena, dengan kontemplasi, sebuah perenungan akan hidupnya selama ini. Mungkin dia sudah banyak melakukan kesalahan dan berulang kali mengalami kegagalan yang sama. Oleh karena itu, dia berharap bahwa para penerusnya tidak mengulangi kesalahan yang sama dengannya agar mencapai kehidupan yang lebih baik.

Baik itu sebuah observasi terakhir, harapan, ataupun sebuah kontemplasi, menurut gw lagu itu sangat menggambarkan bagaimana kisah seseorang yang hidup di dunia ini dengan bahagia dan ingin menutup mata dengan mengenang seluruh keindahan yang ada. Mungkin keindahan itu baru saja terlihat olehnya, karena selama ini dia terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal kecil lain. Ketika ia sudah berada di sebuah titik, di mana dia hanya bisa terdiam dan mengamati dunia tanpa bisa berbuat apa-apa, barulah dia menyadari betapa indah dunia yang selama ini ditinggalinya.

Mungkin hal ini terdengar terlalu sentimentil ketika hal ini keluar dari gw. Tapi inilah yang gw rasakan. Dan dari lagu ini, gw ingin menambahkan satu poin di list panjang tentang apa yang mau gw lakukan di masa yang akan mendatang, yaitu:

Gw mau di akhir hidup gw, sebelum mata ini tertutup untuk selamanya, ketika gw terbaring dengan nyaman dan damai di kasur, ditemani dengan istri, anak, menantu, dan cucu yang sangat gw cintai, gw menyanyikan tembang lawas ini. Mungkin pada saatnya gw gak akan kuat untuk menyanyikan satu lagu full, tapi setidaknya gw akan berusaha untuk menyanyikan sepenggal lirik:

“Yes, I think to myself… What a wonderful world…”

Karena kita memang tinggal di sebuah dunia yang sangat indah. Lalu gw menutup mata untuk selamanya dengan damai…

, , , , ,

  1. #1 by Maren Kitatau on May 29, 2009 - 6:27 am

    Emang,
    Selama ini kita beljar sibuk tak jemu,
    Sibuk menjaring angin,
    Balapan tak berujung.
    Capek!

    Kutatap bayiku yg bersedih di kala tidur,
    Kucium bayiku yg tersenyum di kala tidur,
    Ku amati juga dia di kala dia berkejut tidur.
    What on earth in him!

    I am thinking now,,
    To think three in a thing,
    Hopping something wonderful

    Salam Maya!

  2. #2 by Infinite Inficio on June 2, 2009 - 9:08 am

    Wahh, pemikiran yang sangat dalam, Mas.😀 Saya rasa memang itu kesannya seperti orang yang hendak angkat kaki dari dunia… Biasanya baru ketika kita mau meninggalkan sesuatu, baru kita membuka mata terhadap keindahan-keindahannya, yang sebelumnya tidak tampak karena kita sibuk dengan menangani yang buruknya *haiyahh*

    Gw mau di akhir hidup gw, sebelum mata ini tertutup untuk selamanya, ketika gw terbaring dengan nyaman dan damai di kasur, ditemani dengan istri, anak, menantu, dan cucu yang sangat gw cintai, gw menyanyikan tembang lawas ini.

    *speechless* K-Kereeeen~ *ditendang*

  3. #3 by Bebek Jamuran... on June 9, 2009 - 1:28 am

    @Maren: Salam balik…🙂

    @Infi: Benarkah? :”> *malu-malu kucing*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: