Menyerah atau Mati

Cerita ini kudedikasikan pada diriku sendiri, yang terus berjuang pada perang yang tidak pernah akan kumenangkan namun dengan bodohnya terus keperjuangkan. Juga pada orang yang membuatku memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa, atau untuk memperhalus bisa disebut belum saatnya walaupun ‘saat yang tepat’ itu entah kapan, kuraih dan kudapatkan dengan kedua tanganku.

Cerita ini, walaupun tadinya aku berencana untuk membuat sebuah cerita pendek (cerpen), cukup panjang (terakhir dicek lebih dari 3000 kata dan kalo di MS Word bisa sampe 7 halaman dengan satu spasi). Jadi, segera cari posisi yang enak untuk membacanya. Siapkan cemilan dan minuman ringan untuk menemani jika merasa perlu. Atau bagi para pembaca yang mengunakan komputer umum/ada di warnet/minjem komputer temen, bisa di-save dulu untuk dibaca nanti agar billing-nya gak mahal atau supaya gak diganggu ama orang yang mau make komputernya setelah Anda.

Oh iya, ada beberapa adegan yang mungkin tidak sesuai dengan orang-orang yang tidak kuat menghadapi hal-hal yang sadis dan menyeramkan. Walaupun tingkat kesadisan yang ada di cerita in menurut gw masih kurang sadis kalo dibandingin sama film-film pembunuhan.

Ok? Siap?


….
…..
……

Bunyi rentetan senapan menyadarkanku. Detuman-dentuman keras membuat telingaku berdenging. Kepulan asap membuat jarak pendangku berkurang. Aku berusaha untuk mengangkat kepalaku dan melihat keadaan sekitar.

Kulihat banyak tubuh-tubuh yang bergeletakan, tidak beraturan dan saling menindih, di medan perang ini. Darah segar mengalir dari tubuh-tubuh tersebut. Ada yang kakinya hilang, ada yang lengannya hilang, ada yang ususnya berceceran, dan ada kepala yang menggelinding tanpa badan dengan mata melotot dan mulut menganga. Bau amis darah menusuk hidungku. Rasanya isi perutku seakan-akan memanjat kerongkonganku dan berusaha keluar dari mulutku.

Aku tidak tahan dengan pemandangan ini. Pemandangan sadis yang diciptakan oleh perang ini. Mayat-mayat bergelimpangan. Para prajurit saling membunuh. Teriakan-teriakan panik karena terkena ledakan. Prajurit yang lari terbirit-birit karena takut. Aku tidak suka melihatnya. Sangat berbeda dengan apa yang kubayangkan tadi pagi…

Pada awalnya kami bertarung dengan penuh semangat. Kami mengacungkan kepalan tangan kami menuju matahari dan berteriak sekuat tenaga. Kami menggengam keras senjata kami dan mengarahkannya ke daerah lawan dengan harapan bisa membumihanguskan mereka. Para komandan berkobar-kobar mengumbar janji bahwa kami pasti akan menang dan pulang dengan selamat. Serangan kantuk saat apel pagi, cucuran keringat saat berlari menuju medan perang, semua itu tidak ada apa-apanya. Karena kami yakin bahwa kami bisa menang!

Namun, lihatlah ini! Apa yang terjadi dengan semangat kami tadi pagi??? Sekarang teman-temanku sudah menjadi seonggok tubuh tak bernyawa!!! Menggeletak dengan lemas di pasir yang panas ini! Ke mana semangat kami??? Ke mana janji-janji indah para komandan yang mengatakan bahwa kita akan pulang dengan selamat???

Aku di sini, tidak bisa berbuat apa-apa, menatap hamparan pasir penuh tubuh tak bernyawa. Badanku lemas. Tanganku tak mampu lagi untuk menggengam senjata. Sinar matahari menembus seragamku yang terkoyak sehingga teriknya terasa sampai di tulang-tulangku yang sudah remuk. Aku kembali merebahkan kepalaku di pasir yang panas. Kututup kelopak mataku. Aku menunggu ajal untuk menjemputku…


….
…..
……

Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Bunyi rentetan senapan sudah tidak terdengar lagi. Telingaku berhenti berdenging karena sudah tidak ada lagi dentuman-dentuman keras yang terdengar. Aku berusaha membuka mataku untuk melihat keadaan sekitar.

Gelap. Tidak terlihat lagi ada tumpukan mayat yang saling tindih. Tidak ada lagi para prajurit yang saling membunuh. Tidak ada prajurit yang berlari sampai terkencing-kencing. Yang ada hanyalah kegelapan. Sunyi. Tidak terdengar lagi jeritan-jeritan prajurit yang meminta tolong. Dingin. Matahari sudah terbenam dan padang pasir ini mulai menghembuskan angin malamnya yang dinginnya menusuk tulang.

Aku berusaha membalikkan badanku. Terkapar telentang, menatap langit. Kulihat bintang-bintang bertebaran menghiasi langit malam bak hiasan mutiara yang ditebar pada selendang sutra berwarna hitam. Keindahannya membuatku terlena. Sesaat aku melupakan bahwa aku sedang terkapar di medan perang yang kejam. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku untuk berteriak. Aku berteriak minta tolong. Namun tak ada jawaban…

Apakah suaraku terlalu pelan untuk didengar? Atau jangan-jangan aku sudah ditinggalkan karena dianggap mati? Atau, lebih parah lagi, sudah tidak ada lagi teman-temanku yang hidup? Apakah aku satu-satunya yang selamat? Apakah perang sudah selesai? Pihak manakah yang menang? Pihakku? Ataukah pihak lawan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiranku. Sampai pada titik aku merasa lelah untuk berpikir. Kembali aku menatap bintang di langit dan terlena dengan keindahannya. Pikiranku kosong. Hampa. Seolah-olah semuanya ditelan oleh keindahan bintang-bintang. Aku sudah tidak lagi merasakan dinginnya angin malam yang menusuk tulang. Aku terus memandangi bintang-bintang sampai akhirnya aku terlelap di bawah hamparan bintang.


….
…..
……

Hangat. Tiba-tiba aku merasa hangat. Seakan-akan ada selimut tebal yang menyelubungi tubuhku dengan kehangatannya. Nyaman sekali rasanya. Kehangatan dan kenyamanan inilah yang sangat kurindukan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakannya. Semenjak aku bergabung dalam perang ini, tidak ada yang bisa memberikanku kehangatan dan kenyamanan seperti ini.

Aku membuka mataku untuk melihat siapakah gerangan yang memberikanku kehangatan ini? Atau apa yang memberikanku kehangatan ini? Ke manakah perginya angin malam yang dingin itu? Apakah pagoi sudah tiba? Apakah aku sudah diangkut ke markas untuk diobati?

Alangkah terkejutnya diriku ketika aku melihatnya. Aku melihat sesosok gadis yang berpakaian putih, dari ujung kepala sampai ujung kaki, berdiri di hadapanku dengan senyumannya yang lembut. Matanya berbinar-binar dan penuh dengan ketulusan. Wajahnya yang bersih seolah-olah memancarkan sinar lembut yang menenangkan. Kulitnya putih bersih dan terlihat sangat halus. Perawakannya yang kecil namun mempunyai paras tubuh yang indah. Gadis seperti itu pasti akan membuat pandangan semua pria tertuju padanya dan mungkin juga pria-pria tersebut langsung jatuh hati padanya.

Keterkejutanku bertambah. Aku mendapati diriku berbaring di sebuah padang rumput yang hijau. Sejauh mataku memandang, yang kulihat hanyalah hamparan rumput hijau yang tidak ada habisnya. Tidak terlihat bekas terjadi sebuah pertumpahan darah yang besar telah tejradi.

Aku berusaha untuk bangkit. Ajaib. Tubuhku serasa penuh tenaga. Aku seperti baru bangun dari sebuah tidur yang nyenyak. Aku terduduk dan memperhatikan badanku. Bersih. Tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja berperang mempertaruhkan nyawaku. Seragamku yang tadinya sudah terkoyak dan penuh peluh terlihat seperti seragam yang baru selesai dijahit. Rapih dan bersih.

Aku kembali menatap gadis yang tadi. Aku ingin mengeluarkan seluruh isi kepalaku. Pertanyaan-pertanyaan sudah memenuhi kepalaku dan mereka sudah tidak sabar untuk dilontarkan. Kau siapa? Di mana ini? Kenapa aku ada di sini? Bagaimana dengan perangnya?

Gadis itu berjalan mendekat dan meletakkan salah satu jarinya di bibirku. Dengan tersenyum lembut ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Entah apa maksudnya. Gadis itu hanya tersenyum lembut dan menyodorkan tangannya ke arahku. Dengan ragu-ragu aku menggapai tangannya dan ia membantuku untuk berdiri.

Aku menarik napas dalam-dalam. Udaranya segar, membuatku penuh dengan semangat. Sang gadis menunjuk pada satu arah dan mulai berjalan sambil menggengam tanganku. Entah ke mana ia ingin membawaku, tapi sepertinya aku lebih baik ikut. Aku masih ingin tahu di mana aku sebenarnya…

Kami berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh sang gadis. Sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah hamparan rumput hijau. Aku mencoba memicingkan mataku untuk melihat sejauh-jauhnya, mencari tanda kesamaan tempat ini dengan medan perang, di mana beberapa saat yang lalu aku terkapar tak berdaya. Nihil. Tidak ada bekas perang sama sekali. Hamparan rumput hijau yang ada seperti sudah ada sejak dulu dan tidak pernah ada yang mengusiknya. Kami terus berjalan melintasi padang rumput ini dan setelah beberapa saat kami berjalan, aku mendengar suara aliran air.

Kami sampai pada sebuah sungai. Airnya yang jernih mengalir dengan deras. Perjalanan yang cukup lama membuat kerongkonganku kering. Kerongkonganku menyuruh tubuhku untuk mendekati sungai tersebut. Aku mengambil air dengan tanganku dan kuminum air sungai tersebut. Rasanya luar biasa nikmat. Airnya terasa dingin dan menyegarkan. Aku serasa hidup kembali.

Aku menengok ke arah gadis tadi, ingin menawarkan apakah ia ingin meminum air sungai yang menyegarkan ini juga. Namun… Dia sudah menghilang! Aku panik. Satu-satunya manusia yang menjadi pemanduku di tempat yang asing ini telah menghilang. Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpanya.

Aku mulai berlari tanpa arah untuk mencarinya. Aku berteriak-teriak memanggilnya namun tidak ada jawaban. Aku kehilangan harapanku dan kembali ke sungai tempat terakhir kali aku bersamanya. Kembali aku menunduk dan meminum air sungai untuk memuaskan hasrat kerongkonganku akan air. Aku mengambil air sekali lagi dan membasuh wajahku.

Aku mulai berpikir. Apa aku akan terperangkap di sini untuk selamanya? Tanpa gadis itu aku tidak tahu harus pergi ke mana. Haruskah aku mencari jalan keluar? Atau sebaiknya aku menyerah saja dan tinggal di tempat yang indah ini selamanya? Dapatkah aku bertemu dengan gadis itu lagi? Menurutku dia pasti bisa menjawab seluruh pertanyaanku tentang tempat ini…

Benakku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan sampai aku tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatiku dari arah belakang. Orang tersebut berjalan dengan perlahan dan terus mendekatiku. Namun aku terlalu sibuk dengan pikiranku untuk mengkhawatirkan siapa yang datang.

Aku merasakan sentuhan hangat di bahuku yang berasal dari belakang. Segera aku membalikkan badanku dan aku melihat sang gadis itu lagi. Aku bernapas lega. Ternyata ia tidak meninggalkanku. Aku tidak peduli dari mana saja dia, yang penting dia sudah kembali di dekatku. Aku menatapnya dengan lega dan duduk dengan lemas di pinggir sungai.

Kuperhatikan, gadis itu menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggungnya. Aku bertanya-tanya, apa yang disembunyikannya dariku? Aku menunjuk tangan kanannya dan bertanya apa yang disembunyikannya. Wajah gadis itu memerah. Dengan malu-malu ia mengeluarkan tangan kanannya yang disembunyikan dan menyodorkan sesuatu ke arahku.

Tiga tangkai bunga berwarna kuning cerah. Ia menyodorkannya dengan malu-malu. Wajahnya merah padam dan ia memalingkan wajahnya dariku, tak mau menatapku langsung. Sifatnya yang malu-malu membuatku gemas. Aku meraih tangannya dan mengambil bunga-bunga tersebut. Kugenggam tangannya dengan kedua tanganku dan mengucapkan terima kasih.

Setelah menerima bunga dari sang gadis, aku merebahkan badanku. Rumput yang halus, angin sepoi-sepoi yang hangat, suara deru air yang konstan, dan sang gadis yang membelai kepalaku dengan lembut membuatku mengantuk. Aku memejamkan mataku. Membayangkan bahwa keadaan ini akan berlangsung selamanya. Aku bahagia.

Aku berada di tempat yang indah dan damai. Ditemani oleh seorang gadis cantik yang sifatnya membuatku jatuh cinta padanya. Aku merasa sangat bahagia dengan keadaanku saat ini. Aku sudah membuang jauh-jauh pikiranku tentang perang. Aku sudah membuat keputusan yang bulat! Aku akan tinggal di sini selamanya dengan gadis ini. Persetan dengan teman-temanku! Persetan dengan siapa yang telah memenangkan perang! Aku ingin hidup dalam kebahagiaan yang tak berakhir ini. Hanya aku dan gadis pujaan hatiku…


….
…..
……

Aku tertidur dengan pulas entah untuk berapa lama. Angin yang berhembus sudah mulai dingin. Keadaan sekitarku sudah mulai gelap. Matahari yang mulai terbenam memancarkan warna jingga kemerah-merahan yang indah. Aku bangkit dari tidurku dan melihat sekelilingku untuk mencari sang gadis. Ia telah menghilang, lagi!

Aku berusaha untuk tidak panik dan berharap bahwa ia akan kembali lagi ke tempat ini. Aku duduk di pinggir sungai sambil mengengok ke kiri dan kanan, mencari keberadaan sang gadis. Tak berapa lama, aku melihat sosok datang dari arah matahari terbenam. Gadis itu telah kembali. Aku tersenyum lembut, menyambut kedatangannya.

Kulihat tangan kanannya disembunyikan di balik punggungnya lagi. Aku berpikir, apakah ia mau memberiku bunga lagi? Betapa manisnya gadis tersebut. Dia sangat peduli padaku. Apakah dia sudah jatuh cinta padaku? Wajahku memerah memikirkan bahwa dirinya sudah jatuh cinta kepadaku.

Sang gadis berdiri di depanku dengan terengah-engah. Sepertinya dia sudah berjalan cukup jauh untuk mencarikanku hadiah lagi. Aku menatapnya dengan senyuman yang lembut dan menunjuk tangan kanannya yang disembunyikan.

Lagi-lagi, sang gadis dengan malu-malu mengeluarkan tangan kanannya. Ia membuang wajahnya, tak mau menatapku langsung. Aku masih gemas melihat tingkah lakunya yang malu-malu kucing. Aku melihat apa yang dipegangnya, berpikiran bahwa akan ada beberapa tangkai bunga yang berwarna indah…


….
…..
……

“WHOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Aku berteriak dengan keras dan mundur. Mengambil jarak dari gadis itu. Atau lebih tepatnya, dari apa yang dibawanya!

KEPALA!

Sebuah kepala manusia!!! Sebuah kepala manusia, dengan mata melotot dan mulut menganga, yang mengalirkan darah segar dari lehernya! Seolah-olah kepala itu dipisahkan dari tubuhnya dengan paksa.

Aku menjaga jarak dengan sang gadis. Dengan gugup aku bepaling ke arah sungai, ingin membuang jauh-jauh gambaran wajah yang merana itu. Namun apa yang kulihat? Air sungai yang jernih itu berubah menjadi aliran darah! Aku kaget bukan main! Kakiku gemetar, jantungku berdegup dengan keras, keringat dingin bercucuran di wajahku. Suasana padang rumput yang hangat dan cerah sudah menjadi dingin dan gelap. Kembali aku mengarahkan pandanganku ke sang gadis.

Senyumannya yang lembut sudah hilang. Wajahnya yang seolah-olah memancarkan cahaya yang menenangkan sudah ditelan oleh keadaannya sekarang. Matanya yang berbinar-binar menghilang dan sekarang kedua matanya menatapku dengan pandangan penuh dendam. Ia menyeringai dan mulai tertawa. Suaranya melengking membuat telingaku sakit mendengarnya.

Aku berdiri dan mulai berlari. Terus berlari. Aku tidak berani untuk mengengok ke belakang. Aku hanya terus berlari. Berlari. Tidak peduli tujuanku, yang penting aku harus terus berlari menjauhi pemandangan yang tidak mengenakkan itu. Terus berlari. Sampai tenagaku habis dan aku jatuh tersungkur…


….
…..
……

Kesadaranku berangsur-angsur kembali. Aku merasakan angin dingin berhembus, menusuk tulang-tulangku yang lemas. Perlahan-lahan aku membuka mataku. Dalam hatiku aku berdoa, jangan sampai yang kulihat adalah sang pujaan hatiku yang sudah berubah menjadi setan.

Gelap. Itulah yang kulihat. Aku berusaha bangkit dan duduk. Aku memaksakan mataku untuk melihat keadaan sekitar dalam keadaan gelap. Aku kembali ke tempatku semula. Di padang pasir. Di mana tadi siang terjadi pertumpahan darah besar-besaran.

Samar-samar kulihat tumpukan tubuh tak bernyawa. Angin malam yang dingin juga membawa bau anyir dari darah yang berceceran. Aku kembali…

Ternyata tadi hanyalah mimpi belaka. Sebuah mimpi yang menyeramkan ketika aku tidak sadarkan diri di tengah tumpukan tubuh tak bernyawa. Aku telah terbebas dari mimpi burukku. Aku menghela napas dengan lega dan kembali merebahkan badanku.

Tetapi… Bolehkah aku merasa lega? Aku memang telah terbebas dari mimpi burukku, tapi apakah kenyataan yang aku hadapi lebih baik dari mimpiku? Akankah diriku menjadi lebih bebas ketika sekarang aku kembali di medan perang dan tidak tahu apakah aku masih diizinkan untuk melihat matahari terbit esok? Apakah sebaiknya aku kembali pada mimpiku, setidaknya pada bagian yang menyenangkannya saja?

Aku berusaha membuang jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan itu dari benakku. Tidak ada gunanya aku hanya berdiam diri dan merenung di sini! Aku masih ingin hidup! Aku ingin mencari kebahagiaan yang kurasakan di mimpiku pada kenyataan ini! Aku harus berusaha untuk mendapatkannya!

Aku mengumpulkan tenagaku dan berusaha untuk berdiri. Dengan bantuan senjataku, aku berjalan dengan tertatih-tatih. Ke mana tujuanku? Aku tidak tahu… Satu hal yang pasti, aku harus pergi dari medan perang terkutuk ini!

Aku terus berjalan sampai kakiku terasa lemas. Aku berlutut untuk mengumpulkan tenagaku lagi. Aku memejamkan mataku. Aku terkejut dengan apa yang muncul di benakku. Bayangan sang gadis dalam mimpiku! Sang gadis dengan senyumannya yang lembut terbayang dibenakku. Ia menari dengan lemah gemulai di khayalanku. Aku mulai hanyut dalam lamunanku. Tiba-tiba, aku mendengar suara yang mesin yang sepertinya terletak agak jauh. Di tengah keheningan malam, suara itu terdengar sangat jelas, walaupun aku tidak tahu pasti jaraknya. Perlahan-lahan, suara itu mulai mendekat. Aku melihat seberkas cahaya dari kejauhan dan cahaya itu semakin lama semakin membesar.

Sebuah mobil jip, itu perkiraanku. Mobil jip yang biasa dipergunakan prajurit untuk berpindah dari satu markas ke markas lain. Mobil jip itu berhenti di depanku. Lampunya yang menyilaukan diarahkan langsung ke wajahku. Aku mengangkat tanganku untuk menghalau cahaya tersebut langsung mengenai wajahku.

Terdengar suara seseorang membuka pintu, turun dari jip, dan berjalan ke arahku. Samar-samar aku melihat seragam yang dipakainya. Aku tidak terlalu yakin dengan apa yang kulihat karena lampu dari jip yang sangat terang membua mataku tidak bisa melihat dengan jelas.

Namun satu yang pasti. Ia memakai seragam prajurit. Seragam prajurit yang tidak kukenal. Seragam musuhku…

Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku lemas. Aku tidak akan bisa melawan. Dengan pasrah aku menyerahkan diriku. Aku sudah tidak peduli lagi bahwa aku akan ditawan atau dibunuh di tempat. Aku tidak mampu melakukan apa-apa sehingga dengan pasrah aku menerima apa saja yang akan terjadi padaku.

Prajurit itu menjambak rambutku dan menariknya sehingga telingaku berada sangat dekat dengan mulutnya. Kurasakan napasnya yang hangat di telingaku. Ia berbisik…

“Menyerah… Atau mati…”


….
…..
……

Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Bukankah kedua-duanya akan berujung pada kematian untukku? Aku merasa sedang dibodohi olehnya. Aku disuruh memilih di antara dua hal di mana, apapun yang kupilih, akan menghasilkan hal yang sama untukku, kematian. Aku terdiam. Aku memilih untuk diam dan tidak memilih. Prajurit itu kembali berbisik di telingaku.

“Menyerah, kau akan dijadikan bagian dari kesatuan kami. Dengan syarat kau memberi tahu di mana markasmu berada… Atau mati…”

Pilihan tersebut berubah. Aku dibiarkan hidup di atas kematian teman-temanku atau aku akan mati demi keberlangsungan hidup teman-temanku. Pilihan yang satu ini cukup sulit. Aku bisa hidup untuk mencari kebahagiaan yang kudambakan dengan mengorbankan teman-temanku. Atau aku akan mati sendiri di sini sedangkan teman-temanku bisa hidup untuk mencari kebahagiaan yang mereka idam-idamkan.

Seorang prajurit yang loyal akan memilih pilihan yang kedua, mati. Bagi mereka, lebih baik mati dari pada harus mengorbankan temannya sendiri. Tapi aku? Aku mengikuti perang ini dengan terpaksa! Kebebasanku mencari kebahagiaan direnggut oleh oknum-oknum keparat yang mencetuskan perang ini! Pilihan pertama terdengar sangat menggiurkan bagiku. Tapi tetap saja aku tidak bisa memilihnya. Ada sebagian kecil dari diriku yang mengatakan lebih baik mengorbankan diri.

Aku terdiam seribu bahasa. Aku memejamkan mataku berusaha untuk mempertimbangkan segala untung-rugi dari masing-masing pilihan. Dalam renunganku, entah kenapa sosok gadis dalam mimpiku terus terbayang. Sepertinya, setiap aku memejamkan mata, bayangannya selalu muncul dan menari-nari di benakku.

Sepertinya aku belum bisa melupakan sosok gadis dalam mimpiku itu. Akankah aku bertemu dengannya lagi? Apakah dengan tertidur pulas aku bisa memimpikannya lagi? Atau… Jika aku tidur selamanya, akankah aku bisa bersama dengannya untuk selama-lamanya, tidak terusik mimpi buruk dan pahitnya kembali ke kenyataan?

Aku mendongak dan menatap sosok prajurit yang sudah mempersiapkan pistolnya. Sepertinya ia sudah bersiap untuk membunuhku. Aku menatap langsung ke matanya. Dengan penuh keyakinan aku menjawab…

“MATI!!!”

Sang prajurit mendongkan pistolnya ke arah dadaku. Ia meletakkan jarinya pada pelatuk pistol. Aku melihat jarinya bergerak menarik pelatuk dan aku mendengar sebuah letusan keras yang membuat telingaku berdenging. Aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir di dadaku, mengalir dengan perlahan. Aku mencoba memegang dadaku. Tanganku memerah. Darah. Darahku mengalir.

Air mataku mengalir. Mengalir dengan perlahan melintasi wajahku, dari mata sampai ke dagu. Aku tidak bermaksud untuk menangis. Air mataku keluar dengan sendirinya. Aku tersenyum getir. Inikah akhir hidupku yang singkat? Akhir dari hidupku yang tidak pernah merasakan kebahagiaan sejati?

Pandanganku mulai kabur. Cahaya mobil jip yang sangat menyilaukan perlahan-lahan menjadi redup. Dengingan di telingaku perlahan-lahan berkurang. Kulihat sang prajurit mengangkat pistolnya lagi. Kali ini mengarahkannya ke kepalaku. Samar-samar aku mendengar sang prajurit bertanya apakah aku yakin dengan pilihanku. Aku ingin tertawa, tetapi sudah tidak mampu untuk melakukannya.

Persetan dengan perang! Persetan dengan siapa yang menang! Persetan dengan kedudukan! Persetan dengan teman-temanku! Persetan dengan musuh-musuhku! Aku hanya ingin tidur… Tidur dengan pulas, tanpa terusik, untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan…

Jari prajurit itu menarik pelatuk pistolnya untuk yang kedua kalinya.

DOR!!!

Sebuah peluru melesat dengan cepat dan menembus dahiku…

Di padang pasir yang dingin ini…
Di medan perang yang kejam ini…
Tanpa rasa sakit,
Tanpa teman,
Tanpa penyesalan,
Tanpa beban,
Tanpa pernah menemukan kebahagiaan,
Aku… Mati…


….
…..
……

Kurang puas? Silahkan membaca epilognya. Kenapa harus disembunyikan? Renungkan sendiri setelah membacanya…

EPILOG:


….
…..
……

Dingin. Itu yang kurasakan. Setelah aku mati, yang kurasakan hanyalah kehampaan yang dingin. Sepertinya aku telah mengambil keputusan yang salah… Aku tertawa miris meratapi kebodohanku. Sekarang apa yang bisa kulakukan? Aku sudah mati! Aku hanya bisa menangis meratapi hidupku yang tak pernah mendapatkan kebahagiaan sejati. Aku akan terus berada di kehampaan yang dingin ini, untuk selama-lamanya…

Tapi tunggu dulu!

Aku melihat secercah cahaya di tengah kehampaan ini! Setitik cahaya yang semakin lama semakin membesar. Cahaya yang menerangi kehampaan ini dan membawa kehangatan. Aku berusaha meraih kehangatan itu, sayangnya, aku sudah mati! Tanganku sudah tidak bisa diperintahkan untuk menggapainya…

Terus kurasakan kehangatan itu menyelubungi tubuhku yang kaku. Dari ujung rambutku sampai ke ujung kakiku, aku merasakan kehangatan yang luar biasa nyaman. Sama seperti ketika aku berada di alam mimpi. Perlahan-lahan cahaya hangat itu membentuk sebuah sosok manusia.

Aku tak percaya apa yang kulihat! Sang gadis impianku berdiri di hadapanku untuk yang kedua kalinya! Tapi aku bisa apa? Aku sudah mati! Tangan sang gadis meraih tanganku yang kaku. Rasanya hangat. Sekarang ia memeluk tubuhku yang kaku dan dingin. Kehangatan yang diberikannya membuatku merasa aku hidup kembali.

Aku kembali bisa menggerakkan tanganku untuk membalas pelukan sang gadis. Aku hidup kembali! Sang gadis melepaskan pelukannya dan membantuku untuk berdiri. Aku bisa berdiri tegak lagi!

Pikiranku mulai kacau. Apakah ini alam setelah aku mati? Apakah ini mimpi? Ataukah ini kenyataan? Apakah aku yang sudah mati itu hanya khayalanku belaka? Yang manakah yang benar-benar kenyataan yang kuhadapi? Aku yang mati? Atau aku yang sekarang berada dengan gadis pujaanku?

Aku menatap sang gadis dengan penuh kebingungan. Ia tersenyum lembut dan berkata:

“Sekarang kau berada di sebuah dunia di mana kau akan menemukan kebahagiaan yang kau cari-cari. Inilah kenyataan yang kau hadapi sekarang.”

Aku tidak bisa mencerna kata-katanya. Apakah ini surga? Tanyaku. Sang gadis menggenggam tanganku dengan erat dan menjawab:

“Kau bisa menyebutnya seperti itu!”

Jawab sang gadis dilanjutkan dengan senyumannya yang manis. Aku luluh di hadapan senyumannya yang manis. Aku menggenggam tangannya dengan erat. Selama aku bersama dengan pujaan hatiku, aku tidak peduli apakah ini kenyataan atau mimpi, aku tidak peduli apakah ini di surga atau di dunia nyata!

Selama aku bersamanya,
Aku akan terus bahagia,
Aku berjanji,
Akan selalu membuatnya bahagia,
Dan tidak akan pernah melepaskan dirinya…

, , ,

  1. #1 by Seseorang on July 31, 2008 - 2:41 pm

    Yah elah dip… ternyata loe… ck…ck…ck….

  2. #2 by someone on August 1, 2008 - 2:07 pm

    hidden text yaaa😀

  3. #3 by plain love on August 4, 2008 - 5:19 am

    anjrit…

    *save page*

    real comment later…

  4. #4 by plain love on August 23, 2008 - 7:01 pm

    udah baca… yay…!!!

    ceritanya agak terlalu kaku matt…
    *dah lama baca dan lupa komen lengkapnya gimandrang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: