Potret Ketidaksempurnaan Manusia

Manusia, sebagai makhluk yang katanya yang paling sempurna, ternyata mempunyai cacat-cacat yang fatal. Sebagian hanya akan menjadi bahan tertawaan orang lain, namun ada sebagian lain yang bisa merusak kehidupan orang yang bersangkutan. Berikut saya tampilkan beberapa potret ketidak sempurnaan manusia.

Gambaran pertama:

Tiga orang mahasiswa sedang mehabiskan malam bersama di kamar kost salah seorang dari mereka. Salah seorang dari mereka sedang bermain game tembak-tembakan yang menegangkan di laptop sedangkan dua orang temannya hanya menonton dan menghabiskan waktu mereka dengan mengurangi nyawa mereka melalui tiap hisapan rokok mereka. Seketika, listrik padam. Mahasiswa yang sedang bermain laptop meneriakkan sebuah kata kasar karena laptopnya mati, mengingat ia tidak memasang baterainya.

Ketiga mahasiswa tersebut tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Salah seorang dari mereka memutuskan untuk memasak air untuk menyeduh kopi, dan mengambil pemanas air listriknya. Tetapi, diletakkan kembali pemanas air listriknya karena ia baru saja ingat kalau listrik sedang padam. Ketiga mahasiswa tersebut kemudia menyalakan lilin dan duduk melingkar, mengelilingi lilin tersebut, sambil terus mengurangi sisa hidup mereka melalui tiap hembusan asap rokok yang mereka keluarkan dari mulut.

Salah seorang dari mereka menutuskan untuk ber-SMS-ria, seorang lagi menyumbat telinganya dengan musik-musik dari MP3 player dengan memberdayakan sisa baterai yang ada, dan seorang yang terakhir terus saja menghabiskan sisa hidupnya (mungkin dia merasa bisa hidup 1000 tahun lagi).

Potret ketergantungan manusia yang berlebihan. Bisa dilihat ketiga mahasiswa tersebut menggantungkan dirinya pada benda-benda elektronik. Ketika listrik padam, tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka. Hanya bisa duduk dan menunggu… Manusia sepertinya memang sudah dimanjakan dengan listrik…

Gambaran kedua:

Hari itu, seorang mahasiswa berjalan dengan gontai ke kampusnya. Kepalanya terasa berat. Keadaan seperti itu membuatnya menjadi sedikit arogan. Karena sedang tidak enak badan, ia merasa semua orang adalah penganggu, mengganggu mahasiswa tersebut agar tidak bisa istirahat. Merasa ia bisa melakukan segalanya dengan benar dan cepat, agar bisa kembali beristirahat. Namun…

Hari sudah malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB. Mahasiswa tersebut berdiri di tengah ruangan ber-AC. Ditatapnya temannya yang sedang terduduk, menahan sakit. Hanya berdiri, tanpa melakukan apa-apa. Menatap dengan penuh iba, namun tak bisa membantu. Ingin membantu, namun tak berdaya. Dilihat teman-temannya yang lain berusaha untuk membantu, namun apa yang dilakukannya? Hanya berdiri dan melihat…

Hembusan angin dari AC menambah dinginnya malam. Suara dengungan AC selalu berusaha memecah keheningan malam yang senyap. Mahasiswa tersebut pada akhirnya kembali ke tempat duduknya. Meninggalkan temannya yang sedang menahan sakit bersama teman-temannya yang berusaha untuk menolongnya.

Aku bisa apa? Aku hanya menggangu di situ! Lebih baik kuserahkan kepada yang benar-benar mampu menolongnya saja…

Potret ketidakberdayaan manusia. Manusia terkadang merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat. TIdak menyadari adanya langit di atas langit. Tidak menyadari bahwa si bongkok tidak akan meraih bulan. Menyadari batas kekuatan kita adalah hal yang tidaklah mudah. Hanya bila dihadapkan dengan hal-hal yang kritis sajalah, manusia bisa mengingat ketidakberdayaannya…

Gambaran ketiga:

Aku duduk sendirian di kamarku. Menatapi layar komputer. Menekan-nekan keyboard yang menghasilkan huruf-huruf di layar. Menggenggam mouse dan meng-klik beberapa kali. Lalu tenggelam dalam dunia maya…

Aku terus duduk sendirian di kamarku yang dingin. Aku merasa temanku hanyalah sebuah komputer. Aku mencurahkan perasaanku pada komputerku. Perasaan yang terpendam dan tak terkeluarkan. Semuanya kukeluarkan bak air dari bendungan yang bocor. Mengalir dengan deras dalam bentuk huruf-huruf yang tercetak di layar.

Semua perasaan yang selama ini kurasakan namun terus kututup-tutupi dari orang lain… Perasaan yang ingin keuteriakkan namun suaraku tak mampu mengeluarkannya… Perasaan yang ingin kusampaikan namun tak sanggup kurangkai menjadi kalimat…

Selalu berusaha menutup diri di dunia nyata… Namun membuka diri di dunia maya… Karena di dalam duniamayalah aku menemukan tempatku mencurahkan perasaankuyang sebenarnya…

Potret kebodohan manusia, atau lebih tepatnya potret kebodohan seseorang. Manusia adalah makhluk sosial. Mereka tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Hanya mencurahkan diri pada dunia maya tidak akan membuatnya lega. Jika digabungkan dengan teman-temannya di dunia nyata, tidakkah itu akan menjadi lebih baik?

Gambaran keempat:

Seorang mahasiswa sedang bercengkrama dengan teman-temannya. TIba-tiba salah seorang dari mereka mengajak mereka semua untuk beribadah. Namun mahasiswa tersebut menjawab dengan percaya diri:

“Ah! Nanti sajalah~ Masih muda… Masih ada hari esok…”

Gambaran ketololan manusia yang sangat tolol. Karena di sini, mahasiswa tersebut menggantungkan diri kepada hari esok, di mana tidak seorangpun tahu apakah hari esok masih akan datang atau tidak. Menganggap dirinya paling hebat karena dengan santainya berusaha menghambat temannya untuk beribadah, seolah-olah dialah yang memegang kendali dunia. Dan ia juga bodoh karena menolak ajakan temanya, di mana sea seharusnya ia bisa membina hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitarnya dengan melakukan kegiatan bersama-sama dengan mereka.

….

…..

Mungkin masih banyak ketidaksempurnaan manusia lainnya. Gambaran-gambara di atas hanyalah yang kudapatkan dari pengalamanku sehari-hari. Jikalau ada peryataan yang tidak sesuai, mohon dimaafkan. Karena aku hanyalah manusia yang tidak sempurna…

Gambaran Terakhir:

Sesosok manusia duduk termenung di kamarnya. Baru saja ia menulis tentang kekurangan-kekurangan manusia. Dengan menulis seperti itu seharusnya ia juga menyadari bahwa dirinya juga memiliki kekurangan. Namun apa yang akan dia lakukan esok hari? Ia akan kembali menjalani hidupnya seperti biasa… Bergantung pada listrik, merasa dirinya paling hebat sedunia, menolak ajakan untuk beribadah, mengandalkan hari esok, dan menutup dirinya…

Potret kekeraskepalaan manusia. Di mana kesalahan yang sudah diketahui, tidak pernah dibetulkan…

, , , ,

  1. #1 by Cune on May 18, 2008 - 5:47 pm

    “Di mana kesalahan yang sudah diketahui, tidak pernah dibenarkan…”

    dibenarkan apa dibetulkan? beda loh..
    sama bedanya dengan:
    pembenaran – pembetulan
    kebenaran – kebetulan

    meskipun benar dan betul sepintas memang sama saja..

  2. #2 by Bebek Jamuran... on May 18, 2008 - 6:21 pm

    Dibenarkan dan dibetulkan telah diubah sesuai saran…

  3. #3 by Xaliber von Reginhild on May 19, 2008 - 11:33 pm

    Hmm.. karena itu manusia disebut sebagai makhluk kompleks?

    Jadi semakin terpicu untuk merilis entri yang satu itu..

  4. #4 by masamune11 on May 22, 2008 - 10:37 pm

    Yah, kalau bukan kompleks, yah bukan manusia kan?

    Manusia merupakan salah satu faktor yang sangat tidak bisa diprediksi, karena selama ada kesadaran dalam makhluk itu, apapun bisa terjadi.

    [koq jadi OOT ‘ ‘a]

    Ah, kalau saya tinjau balik… saya maemang seperti itu juga ‘ ‘a

    …deshou? =3

  5. #5 by Kokoro No Hime on May 23, 2008 - 12:43 am

    Hmm..ntahlah..Menurut saya, masalah bergantungnya pada listrik, merasa dirinya paling hebat sedunia, menolak ajakan untuk beribadah, mengandalkan hari esok adalah pilihan. Pilihan menuju memberdayakan dirinya atau membiarkan dia tidak berdaya.

    – Manusia masih bisa hidup “sempurna” tanpa listrik ( manusia skr saja yg terlalu manja ).
    – Manusia masih bisa merasa sempurna & merasa dirinya paling hebat didunia dengan memblokir perasaannya & melakukan yang dia2 bisa saja.
    – Manusia masih bisa menolak ajakan utk beribadah dengan “sempurna” karena dia masih di dunia. Tidak ada sesama manusia yang dapat menjustifikasi ttg kebenaran hal itu.
    – Sama halnya dengan hari esok.

    Buat saya, tidak ada manusia yang mempunyai “kekuatan” utk bisa berkata orang lain tidak sempurna. Sama saja dengan mengatakan orang lain tidak sempurna padahal dia sendiri tidak sempurna. Bagaimana dia tahu apa itu kesempurnaan?

    Hanya di hadapan Tuhan, baru manusia dapat berkata “Saya Tidak Sempurna” dengan jujur.

  6. #6 by si cune on May 25, 2008 - 10:32 am

    eh dip,,oot nih

    mgkn dulu syekh siti jenar dianggep sesat krn masyarakat indonesia wkt itu dianggep wali songo ‘blm nyampe’ bwt nerima ajaran manunggaling kawula gusti. jadi harus diajar ibadah2 syariah dulu sebelum dapet yang filosofis kayak gitu yg lebih advenced.

    *gw dah blg blm si wkt itu?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: