Menghilangkan Perilaku Diskriminasi dengan Menggunakan Instrumental Conditioning.

 

Hampir semua makhluk hidup bisa mengalami proses belajar, tak terkecuali manusia. Proses belajar tersebut bisa menghilangkan sebuah perilaku serta bisa memunculkan sebuah perilaku baru. Semua itu dilakukan sebagai upaya bertahan hidup.

 

Dalam kehidupan manusia, proses belajar berlangsung untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya, contohnya jika pernah dimarahi dosen ketika telat masuk ke dalam kelasnya, seorang mahasiswa tidak akan telat lagi pada kelas beliau. Adapun fungsi lainnya adalah untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan dan memunculkan perilaku yang diinginkan, misalnya meningkatkan perilaku belajar untuk anak kecil dengan pemberian hadiah.

 

Dalam essay ini penulis akan membahas tentang menurunkan perilaku diskriminasi dengan menggunakan proses pembelajaran instrumental conditioning. Pembahasan akan dimulai dari penjelasan pembelajaran itu sendiri beserta macam-macam proses belajar, pengertian diskriminasi dan contoh-contohnya di kehidupan sehari-hari, serta beberapa contoh proses belajar instrumental conditioning.

 

Pembelajaran adalah sebuah perubahan yang terjadi karena pengalaman individu dengan lingkungannya dan perubahan tersebut realtif tetap dan bisa dilihat. Pembelajaran bisa diperoleh melalui proses belajar yang terdiri dari beberapa macam. Ada classical conditioning, yang mengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya sehingga menimbulkan respon terhadap stimulus yang kedua, observational learning, proses belajar dengan melihat lingkungan dan menerapkannya dengan system trial and error, dan instrumental conditioning yang menggunakan reward dan punishment untuk memunculkan dan menghilangkan perilaku tertentu.

 

Proses belajar yang akan dibahas dalam essay ini adalah instrumental conditioning. Proses belajar tersebut adalah proses belajar dengan menggunakan reward untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan punishment untuk menurunkan perilaku yang tidak diinginkan. Proses belajar ini dipopulerkan oleh seorang behaviorist, B. F. Skinner, yang menganggap bahwa semua respon perilaku manusia itu sebenarnya dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya.

 

Menurut pendapat penulis, instrumental conditioning merupakan proses belajar yang cukup efektif karena menerapkan system reward dan punishment. Individu akan menerima reward jika melakukan perilaku yang diinginkan dan mendapatkan punishment bila melakukan perilaku yang tidak diinginkan. Perilaku bisa bertahan lama dan melekat pada individu bila pemberian reward menggunakan variable-ratio schedule, yaitu jumlah respon yang diinginkan akan berbeda untuk mendapatkan reward, misalnya: pada sebuah percobaan, seekor tikus melakukan tiga kali respon yang diinginkan lalu mendapat reward. Percobaan berikutnya, tikus tersebut baru mendapat reward jika sudah melakukan respon yang diinginkan sebanyak 8 kali. Jumlah yang berbeda setiap kali percobaan akan membuat subjek ingin selalu mencoba respon yang diinginkan agar selalu mendapatkan respon. Pemberian punishment pada setiap kali individu melakukan perilaku yang tidak dinginkan juga memberikan efek penurunan perilaku yang tidak dinginkan dengan syarat, pemberian punishment harus secara intensif, setiap kali individu melakukan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya saja, seorang anak yang sering menggangu temannya diberikan teguran agar tidak mengulangi perbuatannya itu.

 

Meskipun begitu, ada juga faktor-faktor yang membuat instrumental conditioning tidak begitu efektif. Sistem pemberian reward dalam proses belajar ini seakan-akan memberikan sogokan untuk individu agar mau melakukan perilaku yang diinginkan. Pemberian reward yang berupa uang, makanan, atau kebutuhan lainnya, juga menyebabkan individu menjadi rakus. Misalnya seorang anak untuk mau belajar diberi uang Rp 5.000,- ketika sudah belajar selama 30 menit. Lama-kelamaan, anak tersebut akan meminta uang yang lebih karena merasa sudah tidak puas dengan reward yang pertama.

 

Pemberian punishment juga membawa dampak yang negatif, terutama pada pemberian punishment yang bersifat melukai secara fisik maupun mental, contohnya: pukulan, makian, dan sebagainya. Individu bisa merasakan ketakutan dan cemas ketika tidak bisa melakkan respon yang diinginkan jika sering diberikan punishment yang bersifat melukai. Adapun pengaruh punishment adalah berkurangnya minat terhadap sesuatu. Misalnya, guru memberikan pengumuman bahwa akan memasang nama anak-anak yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk beberapa anak, kegiatan tersebut bisa memacu untuk terus mengerjakan pekerjaan rumah, namun ada beberapa anak yang malah tidak mau mengerjakannya sama sekali.

 

Sisi negatif dari instrumental conditioning lainnya adalah tidak bisa bertahan lama jika pemberian reward dan punishment tidak dilakukan secara intensif. Misalnya saja seorang anak untuk mau belajar diberikan permen oleh ibunya. Namun, ketika di sekolah anak tersebut kembali tidak mau belajar karena tidak ada yang memberinya permen. Individu yang sedang di berikan pembelajaran dengan menggunakan instrumental conditioning juga bisa mengenali stimulus yang ada di sekitarnya (stimulus control). Contohnya seorang anak mau mencuci piring ketika ibunya ada di rumah, namun ketika ibunya sedang pergi, anak tersebut tidak mau mencuci piring.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, proses belajar kerap kali terjadi. Proses belajar juga terjadi pada kegiatan kita bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar kita. Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali tindakan kita dipengaruhi oleh respon dari masyarakat itu sendiri. Misalnya saja, respon masyarakat yang tidak menyenangkan ketika melihat seorang pemabuk bisa menyebabkan diri kita enggan untuk menyentuh alcohol dan menjadi seorang pemabuk.

 

Adapun perilaku yang ingin dibahas dalam essay ini adalah diskriminasi. Diskriminasi adalah perilaku yang berbeda dan ditunjukkan untuk anggota dari kelompok sosial yang berbeda dengan kita. Diskriminasi merupakan perilaku prejudice yang dilakukan secara nyata. Prejudice sendiri adalah sikap negatif terhadap kelompok sosial tertentu. Perilaku seperti ini sering sekali terjadi di kehidupan bermasyarakat, misalnya: diskriminasi terhadap orang kulit hitam yang terjadi di Amerika Serikat, di mana mereka mendapatkan perlakuan berbeda dalam pemberian kesempatan bekerja.

 

Berdasarkan teori yang sudah dikemukakan di atas, perilaku diskriminasi dapat dihilangkan menggunakan proses belajar instrumental conditioning. Individu yang melakukan perilaku diskriminasi diberikan punishment yang setimpal. Sedangkan individu yang biasa melakukan diskriminasi namun bisa menahan untuk tidak melakukan diskriminasi akan diberikan reward. Proses belajar yang dilakukan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan proses belajar instrumental conditioning pada umumnya karena diskriminasi itu sendiri termasuk perilaku dan instrumental conditioning bisa menurunkan perilaku yang tidak dinginkan.

 

Pemilihan instrumental conditioning sebagai cara penurunan perilaku diskriminasi menurut penulis merupakan hal yang efektif. Meskipun ada beberapa fakta yang membuat instrumental conditioning sebagai cara yang kurang efektif, semua hal tersebut bisa diatasi. Misalnya untuk pemberian punishment, sebaiknya bukan yang bersifat melukai. Serta pemberian reward sebaiknya dilakukan di segalam macam tempat sehingga menghindari terjadinya stimulus control.

 

Makhluk hidup, termasuk manusia, melakukan proses belajar untuk bertahan hidup den menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Manusia, dengan menggunakan instrumental conditioning, bisa menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan dan meningkatkan perilaku yang diinginkan. Diskriminasi termasuk perilaku yang sering terjadi dalam hidup bermasyarakat. Memandang diskriminasi sebagai salah satu perilaku yang dimiliki oleh manusia, penulis berpendapat bahwa diskriminasi juga bisa dihilangkan dengan menggunakan instrumental conditioning.

 

 

 

Daftar Pustaka 

Baron, Robert A., Byrne, Donn, Branscombe, Nyla R. 2006. Social Psychology, eleventh edition. Boston: Pearson Education, Inc.

Schwart, Barry, Reisberg, Daniel. 1991. Psychology of Learning. New York: W.W. Norton & Company, Inc.

Wortman, Camille, Loftus, Elizabeth, Weaver, Charles. 1999. Psychology, fifth edition. USA: McGrow-Hill.

 

, ,

  1. #1 by anaknya freud on December 2, 2007 - 9:52 am

    saudara dipta,,apakah ini esaay yang akan digunakan untuk tugas psikologi soosial yang seharusnya dikumpulkan pada saat uts itu?

  2. #2 by Bebek Jamuran... on December 2, 2007 - 11:09 am

    @anaknya Freud: Benar sekali mas/mbak anaknya Freud. Tapi ini versi yang belum direvisi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: