Siapkah Aku???

Setelah mengetahui bahwa ada seorang teman saya yang baru saja kehilangan orang yang paling dihormatinya, saya tiba-tiba jadi memikirkan hal yang tidak-tidak ketika sedang berbaring di kasur menunggu mata ini terpejam dan jiwa ini terbang ke alam mimpi…

Pertanyaan yang terlintas di kepalaku adalah pertanyaan yang kugunakan sebagai judul.

Siapkah aku???

Pertanyaan tersebut terus membayangi di pikiranku. Siapkah aku jika suatu saat aku mengalami hal yang sama??? Akankah aku bisa untuk melepas kehilanganku dengan ikhlas???

Kehilangan kita sebenarnya bisa berupa berbagai macam bentuk. Tidak hanya dalam konteks ditinggalkan oleh keluarga/famili/kerabat/teman/siapalah lainnya untuk selama-lamanya, namun bisa saja kehilangan dalam bentuk material, seperti: dicopet, kemalingan, dsb. Dan dalam bentuk keadaan yang lebih abstrak, seperti: patah hati, dikhianati, dll. Atau yang lebih ekstrim lagi, kehilangan nyawa kita sendiri…

Jujur, saya sendiri sangat takut untuk menghadapi kehilangan. Walaupun, berbagai macam kehilangan materi yang sudah pernah saya hadapi, bisa saya atasi dengan terus menghayati salah satu pegangan hidup saya,

Pada awalnya kita tidak mempunyai apa-apa, lalu berubah menjadi mempunyainya, dan sewaktu-waktu kita akan kembali pada keadaan tidak mempunyai apa-apa.

Walaupun begitu, pengangan hidup tersebut saya rasa tidak berlaku jika sudah menghadapi kematian. Memang, pada awalnya kita hanya segumpal darah yang merupakan gabungan dari ovum dan sperma yang terletak di rahim ibu kita. Kemudian, kata orang-orang, Tuhan mengembuskan roh pada gumpalan darah tersebut. Lalu terus berkembang sehingga pada akhirnya menjadi seorang bayi.

Dengan melihat kejadian secara sistematis seperti itu, saya mengambil kesimpulan bahwa pada awalnya, kita memang tidak mempunyai nyawa. Lalu diberikan oleh Tuhan dan kita hidup dengan nyawa tersebut. Dan suatu saat akan diambil lagi oleh Tuhan.

Walaupun sudah saya simpulkan seperti itu, tetap saja saya tidak bisa mengingkari bahwa saya takut akan kematian. Menurut saya, kematian itu adalah suatu keadaan yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya dan merupakan sebuah rahasia hidup. Dan sesuatu yang rahasia dan belum pernah kita rasakan selalu membuat diriku ini ketakutan.

Pada akhirnya, diriku yang rapuh di dalam ini akan selalu ketakutan untuk menghadapi kematian. Andai saja kematian itu dapat dihindari, akan semua akan kulakukan demi menghindarinya…

, , , , ,

  1. #1 by Dream Maker on October 1, 2007 - 9:09 pm

    kita berarti sepemikiran dong?

    aku juga gak mau mikirin, makanya, kalo misalnya kita ‘kehilangan’ kayak yang dialami salah satu blogger

    menyesuaikan sifat egois-ku, aku gak bakalan peduli

    toh yang penting bukan aku yang kehilangan nyawaku ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: